Cerpen ini diinspirasikan oleh lagu Pink yang berjudul ‘Nobody knows’. ‘**’ berarti dua baris yang dikosongkan.
Jikalau aku mengaku sebagai kekasih gelap Romi, apakah yang akan menjadi reaksi spontanmu?
**
Tertawalah.
Karena Romi adalah pemuda berbakat yang paling dicintai oleh seisi sekolah ini. Romi tampan, tinggi, berasal dari keluarga terhormat… pendek kata, tidak bercela. Dialah sang pangeran impian.
Romi terlalu sempurna untuk gadis yang berasal dari kegelapan sepertiku. Aku adalah seseorang yang dikucilkan oleh seisi sekolah karena terlalu mencintai kegelapan. Tubuhku kurus dan wajahku tirus bak penghisap linting setan. Aku tak lebih, bahkan kkurang, daripada seseorang yang ditenggelamkan oleh hiruk pikuk dunia SMA.
**
Tetapi, sungguh.
Aku adalah kekasih gelap Romi yang selalu bersembunyi di bawah naungan pelepah aib. Kami memang saling mencintai. Sepertinya, walaupun terlalu indah untuk menjadi kenyataan, Romi mencintaiku apa adanya.
**
Hari ini adalah hari kelulusan kami, hari terakhir kupijakkan kaki hina ini di lantai gedung yang telah kuanggap sekolah selama tiga tahun terakhir. Sedih, namun aku memilih untuk duduk sendirian di kelas. Karena aku tahu bahwa riuh rendah, canda tawa, dan air mata di luar sana bukanlah untukku.
Romi menghampiriku pada terik siang itu. Dia menepis segala kemungkinan bahwa banyak orang-orang iri di luar sana yang akan menyaksikan. Dia menyunggingkan senyuman malaikatnya. Sebelum aku sempat kembali ke bumi dari surga rekaan kami berdua, dia meraih jemariku, yang memang tergeletak di atas meja.
(Romi memang begini. Dia tidak malu dengan cinta kami. "Cinta kita suci, Julia. Kenapa aku harus malu menunjukkannya kepada mereka?" terngiang kata-katanya dulu di telingaku.)
Secepat kilat, aku menarik jemariku dari genggamannya seraya mendesis, "pergi. Jangan kaudekati aku di tempat seperti ini!"
(Melainkan Romi, akulah yang justru malu mengakui cinta kami. Aku tak ingin dianggap perempuan penggoda. Aku tak ingin mengaratkan reputasi Romi yang cemerlang. Lagipula, aku yakin tak akan ada seorang pun yang rela melihat Romi menjadi kekasihku. Itulah sebabnya aku mengubur cinta kami jauh ke dalam sumur kegelapan.)
Romi mengatupkan bibirnya penuh pengertian. Sebagai gantinya, dia menyelipkan secarik kertas ke sela-sela jermariku. Romi berdeham penuh maksud, kemudian berlalu dari pandanganku.
Kulirik secarik kertas itu.
"Jam 4 sore, tempat biasa."
**
Jalan-jalan sore itu terasa damai, karena tak ada yang akan mengenali kami di pesisir kota seperti ini. Sayangnya, hari itu harus diakhiri dengan perpisahan, yang ternyata adalah awal dari sebuah perpisahan yang lain.
Romi akan berkuliah di Amerika. Dia akan berangkat besok pagi.
Dia sengaja merahasiakan hal ini sejak awal. Romi terlalu mengenalku, dan dia tahu bahwa aku akan menangis.
"Sudah, sudah. Cinta kita terlalu kokoh untuk direntang jarak. Di manapun aku berada, percayalah, kamu akan selalu kubawa di sini," hibur Romi, sambil menepuk dada kirinya.
Sambil mendekapku erat-erat,Romi menyeka air mata yang menelusuri pipiku, dan mengecup bibirku untuk yang terakhir kalinya.
Ingin rasanya aku menghentikan detak jarum jam pada saat itu juga.
**
Sepertinya benar kata Romi. Cinta yang murni akan tetap murni sekalipun direntang jarak dan waktu.
Kami masih berhubungan seperti biasa. Kami masih berbincang-bincang seperti biasa.
Tetapi jujur saja, aku tidak mempercayai kesetiaan Romi. Dia akan mendapatkan kekasih baru segera setelah dia mampu melupakanku. Pasti banyak gadis yang lebih layak untuknya daripada aku di negeri Antah Berantah itu.
**
Benar dugaanku, hubungan jarak jauh kami hanya bertahan selama kurang dari 3 bulan. Tiba-tiba aku tidak dapat menghubunginya lagi. Romi bukan hanya ditelan bumi, tapi juga ditenggelamkan oleh keraguanku.
Pasti dia telah menemukan kekasih baru. Romi tak akan tetga memberitahuku, jadi dia memilih untuk melenyapkan diri. Seakan-akan harum tubuhnya dari ingatanku bisa ditiup oleh angin gurun pasir saja.
Aku dengan berat hati meneruskan hidupku. Aku berkuliah, menikah, dan membina keluarga seperti layaknya seorang wanita yang memungut sisa-sisa harga diri dan ketegarannya.
Namun malaikat bernama Romi itu tidak pernah kuhapus dari kenangan hatiku. Aku ingin mencari tahu keadaannya sekarang.
**
Kira-kira 30 tahun setelah hari kelulusan kami dulu, dan bekas SMA kami menggelar sebuah reuni akbar.
Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bertemu lagi dengan Romi. Secantik apakah istrinya? Masihkah dia memiliki senyuman malaikatnya itu?
Aku mencari-cari sosok pria dewasa bernama Romi itu di tengah riuh rendah, canda tawa dan air mata orang-orang dewasa yang menemukan kembali puing-puing masa mudanya.
…
AKU TIDAK DAPAT MENEMUKANNYA!
Pantang putus asa, aku pun menanyakan kehadiran Romi pada rekan-rekan panitia penyelenggara acara.
"Romi? Dia sudah Almarhum dalam sebuah kecelakaan naas di Amerika," jawab salah satu dari mereka, singkat.
Aku bingung dan terkejut. Terlalu cepat untukku menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Seutas senar logikaku baru saja mereka putuskan.
"Mengapa tidak ada yang memberitahuku?"
Rekannya yang lain menyeletuk sinis, "acara pemakaman adalah sebuah acara pribadi, dan tentunya tidak dibuka untuk umum. Memangnya kamu teman atau kerabat dekatnya?"
**
Aku terpaku. Aku adalah kekasih gelapnya! jerit hatiku. Namun tidak ada sedecit pun suara yang keluar dari tenggorokanku. Diam-diam aku mengakui kebenaran komentar orang asing itu.
Hatiku pedih. Selama ini aku mencurigai cinta Romi yang murni. Romi membawa mati cintanya, namun aku menuduhnya berkhianat.
Kekasih gelap memang tidak berhak mengetahui apakh belahan jiwanya masih hidup.
**
Waktu telah menanti selama 30 tahun untuk menguak rahasia kami dan keagungan seberkas cinta.
Aku akan tetap setia menjadi kekasihnya yang hidup di dalam kegelapan.
17 April 2007.
copyright by Katharine.